Setelah sukses menyelenggarakan pelatihan menjahit part I, KPPB PAMIDA kembali menyelenggarakan pelatihan menjahit part II, sebagai lanjutan dari pelatihan menjahit part I, melihat antusiasme peserta yang begitu tinggi di pelatihan pertama menjadi pertimbangan KPPB PAMIDA untuk menyelenggarakan pelatihan menahit part II ini, peserta sibuk resizenamun ada perbedaan mendasar dari kedua pelatihan ini walaupun sama-sama pelatihan menjahit, di pelatihan menjahit part I lebih ke cara menjahit atau menambah variasi pada produk-produk anyaman yang notabene terbuat dari rotan, seperti cara menjahit furing pada tas rotan, anjat, sandal rotan dll, namun di pelatihan part II ini lebih ke pelatihan menjahit secara umum yaitu cara menjahit baju, cara menjahit celana, cara membuat rok dll, Pelatihan menjahit part II inidi laksanakan oleh KPPB PAMIDA sebagai pelaksana dan bekerjasama dengan LPK ALFA TRAINING CENTER sebagai penyedia tempat pelatihan dan fasilitas lainnya, pelatihan ini di selenggarakan pada tanggal 10 – 13 April 2017. bu lungin resizeDiadakannya pelatihan ini dengan harapan, seluruh peserta dapat menyerap sebanyak-banyaknya ilmu cara menjahit yang disampaikan oleh instruktur menjahit bapak Abdul Hamid, sehingga bisa mengaplikasikan ilmu yang telah didapat ke kehidupan nyata minimal bisa menjahit untuk keluarga sendiri tanpa harus mengeluarkan uang ketukang jahit atau sebagai usaha sampingan bahkan utama, karena usaha mnejahit sangat menjajikan, apalagi ada moment-moment tertentu yang membuat banyak tukang jahit yang kebanjiran order misalnya tahun ajaran baru pada saat siswa/siswi barumasuk sekolah, pasti sangat membutuhkan seragam baru, atau menjelang hari raya keagamaan seperti natal dan lebaran, juga untuk memenuhi pesanan bajus eragam perusahaan di sekitar lingkungan kabupaten kutai barat, yang notabene membutuhkan seragam baru setiap tahunnya,penutupan resize
Instruktur pelatihan Abdul Hamid mengatakan “melalui pelatihan ini di harapakan peserta minimal bisa menjahit untuk kebutuhan keluarga sendiri terlebih dahulu, jangan karena gak bisa menjahit dan malu membawa ketukang jahit akhirnya pakaian yang robek di buang, padahal masih bisa digunakan, bahkan bisa untuk menjadi usaha menerima orderan untuk menopang ekonomi keluarga” pungkasnya.